BANDA ACEH - Kapolda NAD, Irjen Pol Bahrumsyah SH, kemarin membuka kegiatan sosialisasi “Pemolisian Masyarakat (Polmas),” di Sultan Hotel Banda Aceh. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu sampai Kamis (21-22/2) itu, terlaksana atas kerjasama Polda NAD dengan Internasional Organization for Migration (IOM).
Kegiatan sosialisasi Polmas tersebut diikuti oleh para pejabat utama Polda NAD, Kapoltabes, Kapolres, Kepala SPN dan Kasatwil di lingkungan Polda NAD. Sosialisasi yang mengusung tema “Melalui Sosialisasi Polmas kita wujudkan Polri yang profesional dan siap menyongsong pemberlakuan Syariat Islam di Provinsi NAD,” bertujuan memberikan pemahaman kepada anggota Polisi sebagai ujung tombak penegakan hukum di masyarakat.
Dalam sambutannya pada acara pembukaan, Kapolda NAD Irjen Bahrumsyah yang didampingi Direktur Manajer IOM, Susan Malone dan narasumber dari Mabes Polri, Dirjen HAM dan Ketua MPU NAD mengatakan, sosialisasi ini sangat baik dilaksanakan. Sehingga setiap anggota Polisi tahu fungsi dan tugasnya di lapangan. Begitupun ia menekankan kepada setiap anggota untuk melakukan pembenahan ke dalam.
“Saya menyambut baik kegiatan ini. Tapi, omong kosong kalau setelah kegiatan ini masih ada anggota yang belum mampu merubah sikapnya,” ungkap Bahrumsyah.
Jenderal berbintang dua ini menambahkan, kemitraan Polisi dengan masyarakat selama ini sudah dilakukan, misalnya dengan membentuk pos kamling di masing-masing desa. Tapi, katanya, kondisi sebelumnya yang belum begitu kondusif, membuat masyarakat jadi terancam dan takut untuk jaga malam, sehingga apa yang sudah dilakukan menjadi buyar kembali.
“Kita saja (polisi-red) waktu itu terancam, apalagi masyarakat. Lalu, untuk sama-sama menjaga kamtibmas ini apa perlu masyarakat diberikan handy talky (HT) agar setiap ada gangguan cepat diberitahukan kepada aparat,” ujar Kapolda dalam nada bertanya.
Menurut Kapolda, pasca perjanjian damai Helsinki 15 Agustus 2005, kondisi Aceh sudah semakin kondusif. Namun, soal disiplin dan penegakan hukum dalam masyarakat sedikit demi sedikit terus ditegakkan. “Saya harapkan kepada peserta setelah sosialisasi ini dapat menjabarkan dan sekaligus mengimplementasikan Polmas dan HAM di lapangan,” katanya.
Direktur manajer IOM, Susan Malone menyebutkan, IOM akan komit untuk terus membantu Polri, terutama dalam memberikan pelayanan masyarakat, kamtibmas dan penegakan HAM. Ia menyebutkan, IOM dan Polri telah menandatangani kerjasama semacam ini sejak 2003 lalu. Bahkan, selama tiga tahun ini, sebanyak 2.972 anggota Polri sudah mendapatkan training tentang Polmas dan HAM. Termasuk beberapa Polda di Indonesia, seperti DKI, Bali, Polres Situbondo dan Papua, termasuk Aceh.
Selain sosialisasi, IOM, Uni Eropa serta Kedutaan Belanda telah membangun 6 unit gedung sebagai pusat pelatihan HAM dari rencana 21 kabupaten/kota di Aceh. “Kami mengharapkan gedung ini dapat digunakan sebagai pusat training bagi masyarakat dalam membina kemitraan dengan Polri,” harapnya.(Sumber:serambinews.com)
Selasa, 02 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar